pluralisme dan multikulturalisme

  1. A. Pengertian Pluralime dan Multikulturalisme

Kalau pluralisme sendiri itu adalah bermacam-macam banyak jenisnya, sedang yang bisa diambil contoh disini adalah pluralisme agama. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 148 yang artinya:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (148)

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadapi kepadanya maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan, dimana saja kamu berada. Allah pasti akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat) sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. 2 : 148).

Ayat diatas menjelaskan tentang pluralisme menurut pemahaman islam ayat itu dimulai dengan pernyataan tentang fakta bahwa masyarakat dalam dirinya sendiri terbagi ke dalam berbagai macam kelompok dan komunitas masing-masing mempunyai orientasi kehidupannya sendiri, dan memberikan arah petunjuk. Komunitas-komunitas tersebut diharapkan dapat menerima kenyataan tentang adanya keragaman sosial-kultural dan saling toleran dalam memberikan kebebasan dan kesempatan kepada setiap orang untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan sistem kepercayaan mereka masing-masing.

Dan yang diharapkan adalah komunitas yang berbeda tetapi tetap saling berlomba-lomba dengan cara yang dapat dibenarkan dan sehat guna meraih sesuatu yang terbaik bagi semua.

Sedangkan multikulturalisme menurut para tokoh adalah :

  • Menurut Petter Wilson, dia mengartikan multikulturalisme setelah melihat peristiwa di Amerika. Di Amerika multikulturalisme muncul karena kegagalan pemimpin di dalam mempersatukan orang negro dan orang kulit putih, disini dapat diambil sebuah sintesa bahwa multikulturalisme menurut Petter Wilson adalah semata-mata merupakan kegagalan dalam mempersatukan kelompok-kelompok etnis tertentu, kemudian problem penghambatan proses integrasi budaya ini berujung kepada gagalnya atau salahnya perspektif tentang sebuah kesatuan budaya yang seharusnya kemajemukan tidak dipaksakan untuk menjadi satu, akan tetapi perbedaan itu haruslah menjadi kekuatan yang kompleks untuk bersatu dan berjalan bersama tanpa adanya konflik.
  • Menurut Kenan Malik (1998), multikulturalisme merupakan produk kegagalan politik di negara Barat pada tahun 1960-an kemudian gagalnya Perang Dingin tahun 1989 dan gagalnya dunia marxisme.

Sedangkan multikulturalisme menurut Islam

  • Dulu manusia adalah umat yang satu, setelah timbul perselisihan maka Allah mengurus rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, “Tidak berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah datangkan kepada mereka kita, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri, maka Allah memberikan petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus”. (Q.S. Al-Baqarah : 213).

Di dalam ayat ini menjelaskan bahwa konsep kemanusiaan universal Islam yang mengajarkan bahwa umat manusia pada mulanya adalah satu, perselisihan terjadi disebabkan oleh timbulnya berbagai vested interest masing-masing kelompok manusia, yang masing-masing mereka mengadakan penafsiran yang berbeda tentang suatu hakikat kebenaran menurut vested interestnya.

Meskipun asal mereka adalah satu, pola hidupnya menganut hukum tentang kemajemukan, antara lain karena Allah menetapkan jalan dan pedoman hidup yang berbeda-beda untuk berbagai golongan umat manusia.

“Untuk tiap-tiap manusia diantara kamu, kami berikan jalan dan pedoman hidup sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semua lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.

Dari dua ayat Al-Qur’an di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa betapapun perbuatan yang terjadi pada manusia di bumi ini, namun hakekat kemanusiaan akan tetap dan tidak akan berubah yaitu fitrahnya yang hanif, sebagai wujud primodial (azali) antara Tuhan dan manusia sendiri.

  1. B. Multikulturalisme di Indonesia

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, adat-istiadat serta suku bangsa. Menurut Huntington, keanekaragaman di Indonesia ini harus di waspadai karena telah banyak kejadian-kejadian yang menyulut kepada perpecahan yang disebabkan adanya faham sempit tentang keunggulan sebuah suku tertentu.

Faham sukuisme sempit inilah yang akan membawa perpecahan seperti konflik di timur-timur, di Aceh, di Ambon, entah konflik itu muncul semata-mata karena perselisihan diantara masyarakat sendiri atau ada seorang yang menjadi provokator yang jelas konflik tersebut adalah terjadi karena tidak menginginkan adanya Indonesia yang kokoh dengan keanekaragamannya.

Dari adanya konflik akibat dari pihak yang tidak suka dengan keanekaragaman maka Indonesia memunculkan adanya “Bhineka Tunggal Eka” ini adalah mengandung makna yang luar biasa baik eksplisit dan implisit.

Secara eksplisit semboyan tersebut mampu mengangkat dan menunjukkan akan keanekaragaman bangsa Indonesia tetapi bangsa Indonesia yang multiculturalisme akan tetapi bersatu dalam kesatuan yang kokoh.

Secara implisit “Bhineka Tunggal Eka” mampu memberikan semacam dorongan moral dan spiritual kepada bangsa Indonesia, khususnya pada massa pasca kemerdekaan untuk senantiasa bersatu dalam melawan ketidakadilan para penjajah, walaupun dari suku, agama dan bahasa yang berbeda.

Bukti adanya multiculturalism yang ada di Indonesia adalah merupakan bukti adanya bahwa Indonesia adalah kaya akan keanekaragaman budaya, sehingga Indonesia dituntut agar supaya bagaimana Indonesia memperhatikan akan keanekaragaman agar tetap pada satu kesatuan yang kokoh dan bukti adanya tanggung jawab Indonesia terhadap multicultural adalah dengan adanya pedoman “Bhineka Tunggal Eka”, kemudian munculnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928 merupakan suatu kesadaran akan perlunya mewujudkan perbedaan ini yang sekaligus dimaksudkan untuk membina persatuan dan kesatuan dalam menghadapi penjajah Belanda. Tidak hanya dua hal tersebut, tapi lahirnya Piagam Jakarta juga merupakan bentuk penghargaan terhadap sebuah multikulturalisme dalam arti luas.

Tapi terkadang tidak bisa dipungkiri juga ketika multikulturalisme menjadi suatu masalah, memang benar bahwa konflik dalam masyarakat merupakan proses interaksi yang alamiah, karena masyarakat tidak selamanya bebas konflik, hanya saja persoalannya menjadi lain, jika konflik sosial yang berkembang dalam masyarakat tidak lagi menjadi  sesuatu yang positif, tetapi berubah menjadi destruktif bahkan anarkis seperti kasus Ambon, Poso, Maluku, GAM Aceh dan konflik sosial berbau SARA (Agama) ini tidak dianggap remeh dan harus segera diatasi secara memadai dan proporsional agar tidak menciptakan disintegrasi sosial.

Kebanyakan konflik yang terjadi karena sebab ingin mempertahankan hidupnya dan dipacu adanya status dan kelas sosial, serta tidak jarang juga dipacu adanya perbedaan etnik, agama dan sebagainya.

  1. C. Pluralisme di Indonesia

Di dalam pluralisme yang dibahas disini adalah lebih condong kepada pluralisme agama. Karena yang paling rawan dan paling mudah bergejolak diantaranya adalah pluralisme di bidang agama sebab agama adalah merupakan sesuatu yang paling asasi dalam diri seseorang dan paling mudah menimbulkan gejolak emosional, sejarah mencatat bahwa konflik-konflik yang terjadi di Indonesia pada dasarnya bukanlah disebabkan oleh agama an sich. Melainkan disebabkan oleh faktor-faktor sosial, ekonomi dan politik, namun agama dijadikan sebagai simbol bahkan sebagai motor penggerak untuk terjadinya konflik antar umat beragama. Kita semua yakin dan percaya bahwa semua agama mengajarkan kepada kedamaian, hidup rukun dan tentram dan tidak ada satupun agama yang mengajarkan bahwa umat beragama menyuruh umat untuk saling membunuh atau bermusuhan dengan umat lain.

Adapun pluralisme itu bisa dikatakan merupakan sesuatu yang memang sudah kehendak Illahi yang ada dalam agama disebutkan sebagai sunnatullah (hukum alam) bahwa Indonesia adalah merupakan salah satu negara di dunia yang sangat pluralis dan bahkan multikulturalisme sebab di negara ini terdiri atas berbagai etnis, agama, bahasa, budaya dan sebagainya.

Pluralisme adalah lebih bersifat kepada individu, jadi bisa diartikan bahwa pluralisme memang sudah ada sejak manusia ada karena lebih berhubungan kepada diri pribadi seseorang disini yang lebih bisa diambil contoh adalah masalah agama, karena agama merupakan keyakinan seseorang secara pribadi, tidak ada yang bisa melarang, dan tidak ada yang bisa memaksa.

  1. D. Upaya dalam Menyikapi Multikulturalisme

Di dalam masyarakat multikulturalisme seperti Indonesia, paradigma hubungan dialogal atau pemahaman timbal balik sangat dibutuhkan, untuk mengatasi akses-akses negatif dari suatu problem disintegrasi bangsa, paradigma hubungan timbal balik dalam masyarakat multikulturalisme mensyaratkan tiga kompetensi normatif yaitu kompetensi kebudayaan, kemasyarakatan dan kepribadian.

  1. 1. Kompetensi kebudayaan adalah kumpulan pengetahuan yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tindakan komunikatif membuat interpretasi yang dapat mengkondisikan tercapainya konsensus mengenai sesuatu.
  2. 2. Kompetensi kemasyarakatan merupakan tatanan-tatanan syah yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tindakan komunikatif membentuk solidaritas sejati.
  3. 3. Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang memungkinkan seorang subyek dapat berbicara dan bertindak dan karenanya mampu berpartisipasi dalam proses pemahaman timbal balik sesuai konteks tertentu dan mampu memelihara jati dirinya sendiri dalam berbagai perubahan interaksi.

Semangat kebersamaan dalam perbedaan sebagaimana terpatri dalam wacana “Bhineka Tunggal Eka” perlu menjadi roh atau spirit penggerak setiap tindakan komunikatif, jika tindakan komunikatif terlaksana dalam sebuah komunitas masyarakat multicultural, hubungan diagonal ini akan menghasilkan hal-hal penting diantara adalah:

  1. Reproduksi kultur akan menjamin tetap adanya suatu kelangsungan tradisi dan koherensi pengetahuan yang memadai untuk kebutuhan konsensus praktis dalam praktek kehidupan sehari-hari.
  2. Integrasi sosial yang menjamin bahwa suatu koordinasi akan tetap terpelihara melalui sarana hubungan antara pribadi yang diatur secara resmi, tanpa menghilangkan identitas masing-masing untuk kebudayaan.

2 Responses to pluralisme dan multikulturalisme

  1. Rony mengatakan:

    lam kenal mas… dan makasih tulisannya bisa saya jadikan rujukan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: